Pembuatan Kompos Jerami : Gambar 1

Penyiapan bahan dan alat : Jerami, pagar bambu, ember, terpal, tali dan dekomposer.

Pembuatan Kompos Jerami : Gambar 2

Memasukkan jerami ke dalam kotak yang terbuat dari pagar bammbu secara bersap sambil dipadatkan, setiap sap kurang lebih 25 cm.

Pembuatan Kompos Jerami : Gambar 3

Siramkan Dekomposer yang telah dilarutkan dalam air secara merata pada setiap sap sehingga kelembaban sekitar 60%.

Pembuatan Kompos Jerami : Gambar 4

Tumpukan jerami telah penuh hingga sap terakhir, lepas pagar sebelum ditutup terpal.

Pembuatan Kompos Jerami : Gambar 5

Tumpukan ditutup rapat, diikat lalu diberi beban agar terpal penutup mengikuti penyusutan jerami.

Pembuatan Kompos Jerami : Gambar 6

Jerami diinkubasikan sambil diamati perkembangannya, proses fermentasi berlangsung ditandai dengan kenaikan suhu.

Pembuatan Kompos Jerami : Gambar 7

Dua hari kemudian tumpukan jerami telah menyusut volumenya, periksa kelembaban jerami bila tidak ada tanda-tanda proses fermentasi.

Pembuatan Kompos Jerami : Gambar 8

Lima hari setelah inkubasi penyusutan volume jerami semakin banyak dan kompos siap digunakan bila tumpukan jerami tidak panas lagi.

Sunday, October 9, 2011

PESTISIDA NABATI (bagian 3)



Jika pestisida didefinisikan sebagai semua bahan atau campurah bahan, baik kimia maupun biologi yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu, maka penggunaan pestisida hampir tidak bisa dipisahkan dari sistem usaha tani yang dikelola secara intensif -dimana produktivitas dan indeks panen menjadi preferensinya-. Namun konotasi pestisida telah bergerser, lebih sempit dan diartikan sebagai bahan/senyawa kimia sintetis yang merugikan, baik terhadap agroelosistem maupun kesehatan (termasuk deposit dan residunya). Ini bukan tanpa alasan, bahaya yang diakibatkan oleh penggunaan pestisida sintetis organik/anorganik yang tidak tepat dapat memunculkan masalah-masalah baru.

Dalam sistem pangan organik, sesuai Standar Nasional Indonesia SNI_6729-2010 (revisi SNI_01-6729-2002) salah satu bahan yang dibolehkan untuk pengendalian OPT dan penyakit tanaman adalah Pestisida Nabati (Tabel B.2-A). SNI Sistem Pangan Organik bisa diunduh di sini.

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Kandungan alkaloid atau atsiri yang ada dalam tumbuhan (daun, akar, umbi, rimpang, batang, kulit, bunga dan biji) mempunyai efek antifeedant, repelant, attractant, ovisidal dan larvisidal.

Tumbuhan-tumbuhan yang sering digunakan sebagai pestisida nabati, antara lain :
Daun : Nimba (Azadirachta indica), Mindi (Melia azedarach), Sirsak
Biji : Mahoni (Swietenia sp), Bengkoang
Batang (kayu, kulit) : pasak bumi, pinus, bratawali, serai
Akar : Tuba, Babadotan
Rimpang : Lempuyang, jeringau
Umbi : Gadung, bawang putih
Bunga : Krisan, Selasih
Buah : Mengkudu, Maja

Kelebihan dan Kekurangan Pestisida Nabati

Dalam konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) maupun system pertanian organic, pestisida nabati merupakan salah satu alternative untuk mengendalikan OPT. Ini karena pestisida nabati mempunyai beberapa kelebihan, antara lain :
- Mudah dan cepat terdegradasi oleh sinar matahari, sehinggu tidak meninggalkan deposit/residu yang berbahaya bari manusia
- Pengaruhnya cepat yaitu menggangu/menghentikan nafsu makan serangga, meskipun jarang langsung menyebabkan kematian
- Toksisitas rendah sehingga tidak berbahaya terhadap binatang ternak, kesehatan manusia maupun jasad non sasaran
- Efektif mengendalikan OPT yang telah resisten terhadap pestisida kimia sintetis
- Fitotoksisitas rendah sehingga tidak menggangu tanaman
- Spektrum pengendalian luas (racun lambung dan ravun syaraf)
- Murah dan mudah dibuat oleh petani

Namun demikian, penggunaan pestisida juga memiliki kelemahan, yaitu :
- Cepat terurai, sehingga interval aplikasinya harus sering
- Daya racun rendah, sehingga OPT tidak langsung mati
- Ketersediaan bahan terkadang menjadi kendala

Pembuatan Pestisida Nabati

Pembuatan pestisida nabati tidak terlampau sulit, di dunia maya pun banyak artikel-artikel yang berkenaan dengan pestisida nabati, baik bahan-bahannya, cara pembuatan, cara aplikasi maupun manfaatnya, yang paling sering kita dengar adalah dengan mengekstraksinya atau bahkan hanya direndam saja.

Ada beberapa hal yang mungkin perlu kita perhatikan, yakni bahwa bahan-bahan atau senyawa yang bersifat pestisidal dalam tumbuhan seringkali berupa minyak atau lemak/sterol, alkaloida, terpen/terpenoid, senyawa fenolik atau senyawa benzoat/sinamat/turunan koumarin yang mudah larut dalam pelarut organik. Sebaliknya, kandungan bahan larut air yang bersifat racun jarang dijumpai. Jadi untuk mendapatkan pestisida nabati yang baik, semestinya tidak cukup dilumat/dihaluskan lalu direndam. pelarut organik umum digunakan dalam proses tersebut seperti alkohol (terutama metanol), asetonitril, heksan, khloroform, petroleum eter, bensen atau ligroin.

Ekstraksi bahan bisa langsung dilakukan jika menggunakan alat soxhlet. Jika tidak ada, maka bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut :
Pengeringan, bisa dengan penjemuran atau dipanaskan dalam oven dengan suhu di bawah 50°Celcius sehingga berat bahan tinggal setengahnya. Hal ini dikarenakan sebagian besar bahan-bahan nabati adalah air.
Maserasi, penghancuran atau pelumatan bahan dalam pelarut organik (contoh metanol). Perbandingan antara bahan dan pelarutnya adalah 1 : 4 (satuan berat/volume)
Filtrasi, campuran bahan terlarut kemudian disaring menggunakan corong buchner dilapisi kertas saring. Sisa penyaringan dibuang, sementara hasil penyaringan (filtrat) diuapkan dengan evaporator dalam suhu 40°Celcius sampai volume minimum (disebut F1). Selanjutnya, filtrat tersebut dimasukkan ke dalam corong funnel, kemudian ditambahkan kloroform dan air dengan perbandingan 3xF1 : 4xF1 (satuan volume). Campuran tersebut ditambahi NaCl sebanyak 0,7%-nya, didiamkan selama 24 jam sampai terjadi pemisahan antara air dan metanol kloroform (disebut F2). Selanjutnya, metanol kloroform diuapkan lagi dengan evaporator pada suhu 40°Celcius sampai volume tetap (F3). Ekstrak siap digunakan dengan pelarut aseton.
Uji toksisitas, pengujian efikasi ekstrak pada berbagai konsentrasi sehingga menyebabkan mortalitas jasad sasaran setengahnya (Lethal Concentrate : LC50).

Catatan :
- untuk mendapatkan hasil terbaik, sebaiknya ekstrak dimurnikan dahulu, namun prosesnya cukup panjang (mungkin bisa diposting lain waktu)
- pelarut organik yang digunakan termasuk jenis bahan yang dibolehkan dalam SNI Sistem Pangan Organik

Friday, August 5, 2011

PENYAKIT BUSUK LEHER


Tidak diperkirakan sebelumnya, tanaman padi yang tumbuh dan berkembang baik pada awal pertumbuhannya mendadak rusak ketika memasuki pertengahan fase pengisian (dough grain stage) oleh karena serangan jamur Pyricularia oryzae (P. grisea). Jamur penyebab penyakit blas yang menyerang pada fase ini menyebabkan pangkal malai membusuk (disebut juga penyakit busuk leher). Infeksi pada malai yang baru keluar mengakibatkan bulir hampa (gejalanya mirip beluk oleh penggerek batang). Sedangkan infeksi susulan menjadikan gabah tidak terisi penuh dan akhirnya kering sebelum gabah masak secara fisiologis.

Sedikit ilustrasi tersebut menggambarkan betapa meruginya petani apabila penyakit ini menyerang tanaman padi. Dampak secara langsung adalah produktivitas tanaman tidak bisa optimal (dalam banyak referensi menyebutnya terjadi penurunan produksi hingga 70%). Perbedaan tingkat serangan dapat menurunkan hasil (secara kuantitas) 30 – 50%. Akibat lain dari serangan penyakit ini adalah bahwa bulir yang tidak terisi penuh atau belum masak secara fisiologis menjadikan persentase beras pecah dan beras kapur lebih banyak. Kerugian secara kualitatif ini mengakibatkan nilai ekonominya turun.


Kejadian ini memang tidak diduga sebelumnya mengingat pada pertumbuhan vegetatifnya tak tampak gejala serangan Pyricularia oryzae pada daun yang dicirikan dengan adanya bercak belah ketupat pada daun. Pemberian pupuk juga tidak banyak apalagi berlebihan, demikian juga suhu yang panas dipadukan dengan sistem tanam jajar legowo sangat sedikit memberi peluang bagi perkembangan cendawan ini. Pengendalian secara biologis menggunakan jamur antagonis (Trichoderma sp.) pun telah diupayakan untuk menghambat perkembangan jamur-jamur patogenik. Jadi ketika terjadi serangan penyakit busuk leher yang cukup tinggi, bisa disimpulkan bahwa permasalahannya pada ketehanan genetik tanaman alias varietasnya rentan terhadap penyakit blas.

Pyricularia oryzae

Dengan pertimbangan resiko yang diakibatkan serangan penyakit blas, maka untuk mengetahui teknik pengendalian terpadu perlu mengenal terlebih dahulu penyebab penyakit blas/bercak belah ketupat atau penyakit busuk leher.

Bioekologi

Cendawan ini mempunyai konidiofor panjang bersekat, jarang yang bercabang, tunggal, berwarna kelabu dan membentuk konidium yang berbentuk bulat telur dengan ujung runcing. Jamur ini menghasilkan enzim proteolitik untuk mempermudah menembus dinding sel tanaman inang. Konidianya berbentuk seperti buah alpokat dan bersel tiga, lepas dari tangkainya pada malam hari saat ada embun dan angin. Penyebarannya bisa melalui benih dan angin. Sisa-sisa tanaman dan inang alternatifnya menjadi sumber penularan bagi pertanaman padi berikutnya, karena miselia jamur ini dapat bertahan selama setahun. Spora yang berasal dari tanaman terinfeksi dapat menyebar dan dalam jarak 2 km dari inokulum awal masih bisa menginfeksi tanaman sehat.
Fase penetrasi spora cendawan ini cukup singkat sekitar 6 jam, menginfeksi melalui stomata dan periode laten untuk memproduksi kembali spora juga sangat pendek yaitu 4 hari. Dalam setiap bercak bisa menghasilkan 2000 – 6000 spora setiap hari yang berlangsung selama 10 – 14 hari.

Faktor pembatas

Faktor yang mempengaruhi perkembangan Pyricularia oryzae adalah suhu dan kelembapan. Jamur ini tumbuh dan berkembang baik pada suhu 28 derajat celcius dengan kelembapan sekitar 90%. Selain kedua faktor itu, pemicu lainnya adalah pemberian pupuk nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi dan lemahnya jaringan tanaman sehingga mudah bagi jamur untuk menginfeksi tanaman.

Gejala serangan


Jamur yang menyerang tanaman padi pada masa vegetatif menimbulkan gejala blas daun (leaf blast) dengan ditandai adanya bintik-bintik kecil pada daun berwarna ungu kekuningan. Semakin lama bercak menjadi besar, berbentuk seperti belah ketupat dengan bagian tengahnya berupa titik berwarna putih atau kelabu dengan bagian tepi kecoklatan. Serangan pada fase generatif menyebabkan pangkal malai membusuk, berwarna kehitaman dan mudah patah (busuk leher).

Teknik pengendalian

Dengan potensi biologi yang sangat cepat berkembang biak pada kondisi idealnya, maka kewaspadaan terhadap serangan penyakit blas menjadi dasar untuk menentukan teknik pengendaliannya. Dari sedikit uraian di atas, maka strategi untuk mengendalikan penyakit blas dan busuk leher antara lain :
Sanitasi lahan dari sumber infeksi, membakar jerami tanaman yang terserang penyakit serta membersihkan gulma atau inang alternatifnya.

Penggunaan varietas tahan

Perlakuan benih dengan fungisida berbahan aktif Trycyclazole, Pyoguilon dan Benomyl

Pengaturan jarak tanam, tanaman yang terlalu rapat menyebabkan pertanaman rimbun dan iklim mikronya menjadi lembab.

Pemupukan berimbang

Penggunaan agensia hayati, jamur antagonis seperti Trichoderma harzianum, Chaetomium globosum dan Gliocladium roseum dapat menghambat perkembangan Pyricularia oryzae

Penyemprotan dengan fungisida yang berbahan aktif Edifenphos, Tetraclorophthalide, Kasugamycine, Isopprotionalane atau perpaduan benomyl dan mancozeb

Saturday, July 23, 2011

PESTISIDA (Bagian 2)


Penggunaan pestisida secara bijaksana adalah kalimat paling sering terdengar saat memaparkan teknik pengendalian kimiawi. Prinsipnya bahwa pestisida sebagai alternatif pengendalian OPT harus digunakan secara tepat, tepat sasaran dan jenisnya, tepat dosis/konsentrasinya, tepat waktu dan tepat cara/aplikasinya. Selain efikasi pestisida (efektifitasnya terhadap OPT sasaran), yang menjadi pertimbangan lain dalam penggunaan pestisida adalah harga (efisiensi usaha tani). Apabila teknik pengendalian lain tidak mampu menurunkan populasi OPT secara cepat (ambang pengendalian) dan berimbas pada turunnya nilai ekonomi yang disebabkan oleh kerusakan tanaman/kehilangan hasil (ambang ekonomi) akibat serangan OPT, maka penggunaan pestisida bisa direkomendasikan. Disamping itu, harga juga bisa dijadikan pertimbangan lain dalam pemilihan pestisida yang sejenis. Berkaitan dengan pemilihan pestisida yang akan digunakan untuk pengendalian OPT, alangkah baiknya mengenal penggolongan atau klasifikasi pestisida.


KLASIFIKASI PESTISIDA
Pengelompokan atau klasifikasi pestisida didasarkan atas beberapa macam cara. Menurut jasad sasarannya, pestisida dibagi atas beberapa macam kelompok, antara lain :
• Insektisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa serangga. Contoh : Bassa 50 EC Kiltop 50 EC dan lain-lain.
• Nematisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas jasad pengganggu yang berupa nematode atau cacing-cacing parasit yang biasa menyerang perakaran tanaman. Contoh : Furadan 3 GR.
• Rodentisida : yaitu racun yang digunakan untuk memberantas binatang-binatang mengerat, seperti misalnya tupai, tikus. Contoh : Klerat RM, Racumin, Caumatatralyl, Bromodoiline dan lain-lain.
• Herbisida : adalah pestisida yang digunakan untuk mengendalikan gulma (tanaman pengganggu). Contoh : Ronstar ODS 5/5 Saturn D.
• Fungisida : racun yang digunakan untuk mengendalikan penyakit disebabkan oleh cendawan (jamur). Contoh : Rabcide 50 WP, Kasumin 20 AB, Fujiwan 400 EC, Daconil 75 WP, Dalsene MX 2000.
• Akarisida : yaitu racun yang digunakan untuk mengendalikan jasad pengganggu yang berupa akarina atau tungau. Contoh : Mitac 200 EC, Petracrex 300 EC, Samite 135 EC.
• Bakterisida : yaitu pestisida yang digunakan untuk mengendalikan penykit tanaman yang disebabkan oleh bakteri. Contoh : Ffenazin-5-oksida (Staplex 10 WP).
• Dan lain-lain (Moluskisida, Avisida, Piscisida)

Dari cara penggunaannya, ada pestisida yang penggunaanya dengan disemprotkan, dibenamkan, ditaburkan, dioleskan, disuntikan dan lain-lain. Berdasarkan cara aksi atau cara masuknya pestisida dalam jasad sasaran (mode of action), ada beberapa kelompok pestisida, yaitu :
• Racun perut/lambung : bahan racun akan merusak dalam jumlah besar dalam perut, usus atau sistem pencernaan jasad sasaran setelah pestisida masuk tertelan.
• Racun kontak : pestisida yang bersifat membunuh atau mengganggu perkembangbiakan bila racun mengenai jasad sasaran, baik secara langsung mengenai tubuh sasarannya maupun karena tertinggal/menempel pada permukaan daun/bagian tanaman atau pada tempat-tempat yang biasa disinggahi OPT
• Racun nafas : pestisida yang dapat meracuni jasad sasaran karena terhisap atau masuk ke dalam sistem pernafasannya. Bahan racun pestisida ini biasanya berbentuk gas atau bahan lain yang mudah menguap (fumigan)
• Racun syaraf : pestisida yang cara kerjanya mengganggu sistem syaraf jasad sasaran
• Racun protoplasmik : racun yang bekerja dengan cara merusak protein dalam sel tubuh jasad sasaran
• Racun sistemik : pestisida yang dapat masuk ke dalam jaringan tanaman dan ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman, sehingga bila dihisap, dimakan atau mengenai jasad sasarannya bisa meracuni. Jenis tertentu masuk menembus jaringan tanaman (translaminar).

Berdasarkan kandungan bahan kimia dan sintesisnya, pestisida dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok, yakni :
• Pestisida dengan bahan alami anorganik, contohnya : belerang dan kapur
• Pestisida dengan bahan alami organik, misalnya : produk mikrobia dan nabati
• Pestisida dengan bahan sintesis anorganik, seperti : prusi, Paris Green dan bubur bordeaux
• Pestisida dengan bahan sintesis organik : hidrokarbon berkhlor, siklodien, organofosfat, karbamat, piretroid sintetik, bensilfenil urea, triazin, berbagai jenis pemikat buatan, dll

Dari formulasinya, pestisida bentuknya bermacam-macam, antara lain :
1. Cair
a. Cairan yang dapat diemulsikan (Emulsifeable Concentrate/EC, Transparent Emulsion Concentrates/TEC)
b. Cairan yang dapat dilarutkan atau water-miscible liquids (Water-Soluble Concentrates/WSC, Liquid/L, Soluble Concentrates/SC, Soluble Liquid/SL)
2. Padat
a. Tepung, yang dapat dilarutkan (Water Soluble Powder/SP), yang dapat bercampur dangan air/alcohol (Wettable Powder/WP), dengan pelarut padat (Flowable/F atau Sprayable suspension/S)
b. Debu (Dust/D)
c. Butiran (Granule/G)
d. Umpan (Bait/B)

Selain itu, ada juga yang menggolongkan pestisida berdasarkan sifat-sifatnya, misalnya atraktan (menarik/pemikat, biasanya sebagai perangkap), repelen (menolak kehadiran), antifedan (tidak disukai untuk dimakan).

KODE DAN KOMPONEN PESTISIDA
Pestisida yang beredar dipasaran, dalam kemasannya dilengkapi dengan kode-kode baik berupa tulisan, simbol/warna maupun gambar (pictogram) yang menjelaskan kandungan, sifat, petunjuk penggunaan dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan. Setiap pestisida mencantumkan nama bahan aktif, formulasi, cara kerja, dosis atau konsentrasi serta cara penggunaannya.
Contoh : Winder 25 WP, Winder adalah merek dagangnya, 25 adalah kandungan bahan aktifnya (25%), WP adalah formulasinya (tepung). Di dalam kemasannya tertera juga bahan aktif (imidakloprid) serta dosis penggunaan pada jasad sasaran.
Agar lebih mengenal pestisida, perlu juga diketahui beberapa komponen yang terdapat di dalamnya (menyangkut sifat dan efikasinya) :
• Bahan aktif adalah produk khemis yang mengandung kemampuan insektisidaladjuvant adalah bahan yang memperbaiki kualitas bahan formulasi insektisida (memperbaiki penetrasi/absorbsi)
• agensi antidrift adalah senyawa yang dipergunakan untuk mengurangi jumlah droplet halus hasil suatu noselkarier adalah bahan inert yang berfungsi sebagai pelarut atau matriks bagi bahan aktif
• bahan kompatibel adalah bahan yang dapat dicampur bersama tanpa mempengaruhi sifat masing-masing bahan
• agensi deflokulasi dipergunakan untuk mencegah penggumpalan/agregasi suatu padatan dalam larutan semprot.
• emulsifier adalah bahan surfaktan yang dipergunakan untuk menstabilkan suspensi caira dalam cair (mis. minyak dalam air)
• agensi pembusa adalah bahan kimia yang menyebabkan insektisida menghasilkan busa, sehingga mengurangi drift.
• penetran merupakan bahan additif atau adjuvan yang membantu insektisida bergerak bebas pada permukaan luar jaringan tanaman
• propelen adalah bahan inert dalam produk bertekanan (aerosol)
• surfaktan adalah bahan yang membantu mengefektifkan bahan penyelaras permukaan sasaran (emulsifier, bahan pembasah)--ada yang non-ionik (eter poliglikol dan oksida polietilen) ada yang ionik (anionik: SDS/kationik)
• suspensi adalah partikel halus yang dilarutkan ke dalam cairan (termasuk juga emulsi)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites